Selasa, 05 Februari 2019

-Olah Roso

 24 September 2017

OLAH RASA

Dalam laku mempelajari olah rasa biasanya orang melakukannya dengan cara yang mirip dengan olah batin, yaitu banyak menyepi / tirakat, puasa, laku prihatin, meditasi, membaca amalan-amalan, dsb, bahkan sampai bertirakat di tempat-tempat yang wingit dan angker. Dalam kehidupan jaman sekarang cara-cara tersebut tidak praktis untuk dilakukan. Bila anda ingin mencoba mempelajarinya, ada beberapa cara praktis yang bisa anda lakukan tanpa perlu banyak mengganggu aktivitas anda sehari-hari sbb :

1. Menyepi.
Pengertian menyepi ini bukan berarti anda harus pergi menyepi ke tempat-tempat sepi di gunung, di tempat-tempat angker, dsb. Cukup anda luangkan waktu untuk berdiam diri, di rumah, di kantor atau dimanapun anda berada, untuk merasakan suasana batin anda (lebih baik bila dilakukan di tempat terbuka pada malam hari). Biarkan ide dan ilham mengalir dalam pikiran anda. Perhatikan, mungkin akan ada ide-ide tertentu atau jawaban-jawaban dari masalah anda yang tidak terpikirkan sebelumnya (secara sederhana laku ini mirip seperti orang melamun / merenung).
Menyepi ini juga bisa anda lakukan di tempat yang ramai. Artinya anda belajar menemukan suasana sepi (hening) di dalam keramaian tanpa harus pergi keluar dari keramaian. Tujuan dari menyepi ini adalah untuk membiasakan diri menciptakan suasana hening di dalam rasa dan pikiran, untuk belajar mengendorkan pikiran dan perasaan, dan belajar memisahkan pikiran dengan perasaan, sebagai dasar untuk peka rasa dan batin dan untuk memperhatikan munculnya ide / ilham, dsb, yang mengalir dari batin anda sendiri, dan untuk belajar tidak terbawa suasana untuk bisa mengendalikan diri (mengendalikan emosi, pikiran dan perasaan).

2. Peka suasana batin.
Belajar peka terhadap bisikan-bisikan hati dan nurani, firasat, dsb. Jangan mengabaikan bisikan hati dan firasat, tetapi juga jangan mengada-ada, jangan ber-ilusi. Peka terhadap ilham yang mengalir di dalam pikiran dan rasa. Kalau bisa, carilah sumbernya darimana ilham itu berasal.
Cara ini bermanfaat untuk "mendengarkan" mengalirnya ide dan ilham yang dapat bermanfaat untuk membantu pemecahan masalah-masalah yang sedang anda hadapi, atau informasi tentang kondisi keluarga anda, dsb, yang sebelumnya anda tidak tahu atau sebelumnya tidak terpikirkan.

3. Peka suasana alam.
Belajar peka terhadap suasana alam di manapun anda berada. Cobalah sesekali pergi ke tempat yang wingit atau angker, bisa juga di pasar atau mall. Di tempat itu berdiam dirilah sejenak. Rasakan suasana kegaiban di tempat tersebut. Bila merasakan keberadaan sesuatu roh halus atau energi gaib, dengan getaran rasa di dada atau dengan merasakan getarannya di telapak tangan, cobalah tentukan dimana posisinya berada. Kalau bisa coba rasakan / bayangkan seperti apa sosok wujudnya.
Cara-cara di atas berguna untuk melatih kepekaan rasa dan ketajaman insting / naluri.

Bila anda sudah dapat merasakan suasana alam di suatu tempat, mungkin anda juga akan dapat merasakan bila ada sesuatu yang mengancam, dimana pun anda berada, misalnya ada mahluk halus atau binatang berbahaya, atau ada orang jahat yang sedang mengincar anda, dsb, akan menambah kebijaksanaan anda untuk bersikap hati-hati tidak sembrono di tempat-tempat yang "sensitif" dan rawan bahaya, atau anda juga akan dapat merasakan sesuatu kejadian yang akan terjadi di suatu tempat (misalnya di rumah anda, mungkin anda akan bisa merasakan bila akan ada anggota keluarga yang akan mengalami musibah, akan ada kebakaran, dsb).

Ke 3 cara di atas adalah contoh-contoh cara untuk anda "masuk" ke dalam diri anda sendiri dan belajar mendengarkan aliran ide dan ilham dan belajar tanggap firasat, dapat diterapkan bukan hanya di tempat sepi, tetapi juga di tempat ramai, di manapun anda sedang berada, tidak perlu banyak membuang ongkos, tenaga dan waktu. Bila anda sudah terbiasa melakukan ke 3 cara di atas, berarti anda sudah melakukan olah rasa dan dasar-dasar kebatinan. Belajarlah untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari anda dalam berbagai bidang. Rasa / feeling / intuisi anda akan lebih tajam, dapat mengkira-kira hasil (berhasil-tidaknya) dari sesuatu yang anda lakukan, atau merasakan sesuatu kejadian (baik atau buruk) yang akan terjadi, dan akan lebih mudah mendapatkan ide-ide / ilham atas jawaban permasalahan yang sedang anda hadapi.

Dalam semua proses meditasi dan perenungan usahakan supaya tidak mengedepankan pikiran. Biarkan ide / ilham / bisikan gaib mengalir sampai lengkap, jangan bereaksi dengan berpikir yang dapat menyebabkan aliran ide / ilham itu terputus.

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, apalagi dalam kehidupan modern ini, rasa dan firasat seringkali diabaikan. Namun bila seseorang memperhatikan rasa dan firasatnya, ia sendiri yang akan mendapatkan manfaatnya. Rasa dan firasat seringkali muncul berupa perlambang rasa. Misalnya, seseorang yang akan bepergian ke luar kota, karena merasa tidak enak hati kemudian membatalkan keberangkatannya. Ternyata kemudian ia mendapatkan berita bahwa kendaraan yang seharusnya ditumpanginya mengalami kecelakaan. Untunglah dia tidak jadi berangkat. Apakah ini kebetulan saja ?
Mungkin kita tidak akan terburu-buru berangkat kerja, walaupun sudah terlambat / kesiangan, seandainya saja sebelumnya kita tahu atau dapat merasakan bahwa pada hari itu ada anggota keluarga kita yang akan mengalami musibah.

Kadangkala mungkin kita "merasa" mengalami suatu kejadian yang persis sama seperti yang dahulu sudah pernah terjadi. Tetapi kita tidak tahu kejadian yang dahulu itu apakah itu kejadian nyata ataukah kejadian di dalam mimpi. Biasanya kejadian yang dahulu itu adalah kejadian di dalam mimpi. Sedulur Papat kita sendiri yang memberikan mimpi tersebut. Kita saja yang tidak tanggap.
Kadangkala kita melamun atau ilham mengalir begitu saja, hanya kita saja yang tahu, atau mungkin secara spontan kita mengucapkan sesuatu tanpa dipikir dahulu, tentang sesuatu kejadian yang akan datang atau tentang seseorang (biasanya seorang tokoh manusia) yang akan mengucapkan / berbuat sesuatu, dan ternyata kemudian kejadian tersebut benar-benar terjadi. Dalam hal ini, Sedulur Papat kitalah (atau khodam) yang memberitahukan hal tersebut. Sayang sekali kalau kita tidak mengasah kedekatan dengan para sedulur tersebut. Kepekaan (rasa) itu merupakan suatu potensi besar kemampuan kebatinan yang sayang sekali jika tidak diasah dengan benar. Mungkin potensi untuk bisa meramal, atau merasakan suatu kejadian yang akan terjadi, atau potensi kemampuan mengobati / menyembuhkan, dsb, akan dilewatkan begitu saja.

Kepekaan rasa / insting seringkali sangat berguna sebagai alat radar kita untuk deteksi / peringatan awal, jangan sampai kita terlena / lengah ketika merasakan sesuatu yang berbahaya. Jangan sampai kita masuk ke dalam kesulitan tanpa sebelumnya menangkap peringatan apa-apa.

Beberapa tanda yang bila dilatih / dipertajam akan menjadi suatu potensi kemampuan tersendiri :
- merasa tahu apa yang akan dikatakan seseorang saat mendengarkan seseorang sedang berbicara.
- cepat mengenal kepribadian terdalam seseorang walaupun baru kenal.
- banyak ilham tentang kejadian yang akan terjadi (kejadiannya kemudian benar-benar terjadi).
- mengenal firasat, atau bisa membedakan suatu kejadian yang merupakan tanda dari akan terjadinya
kejadian lain entah baik atau buruk. Dan ketika kejadian itu terjadi ia tahu bahwa sebelumnya ia sudah menerima tanda tentang akan terjadinya kejadian itu.

Kemampuan-kemampuan di atas, jika sudah terlatih, sering disebut sebagai daya linuwih yang merupakan dasar-dasar dari kemampuan seseorang yang waskita.

Kemampuan-kemampuan di atas dapat juga terjadi karena seseorang berkhodam atau dirinya ketempatan mahluk halus. Dalam hal ini orangnya merasa peka rasa atau merasa mendapat banyak ilham karena mahluk halus yang bersamanya itu memberitahunya dalam bentuk bisikan gaib dan rasa. Bila kemampuan peka rasa atas bisikan-bisikan gaib itu juga sudah terlatih orang itu dapat juga menjadi waskita.

Intinya adalah kepekaan rasa.
Sesudah itu tinggal kemampuan orangnya sendiri untuk mendayagunakannya.
Untuk tahap awal belajarnya yang harus kita latih adalah belajar untuk bisa hening dan "memperhatikan".

Untuk belajar peka rasa dan firasat kita harus belajar hening dan memperhatikan, belajar merasakan adanya tanda rasa di dada tentang suatu kejadian yang akan terjadi dan belajar mendengarkan bisikan gaib / ilham yang mengalir di benak / pikiran kita mengenai informasi kejadian yang akan terjadi.
Untuk belajar melihat gaib kita harus belajar hening dan memperhatikan gambaran gaib yang muncul di benak / pikiran kita.

Untuk belajar berkomunikasi dengan gaib kita harus belajar hening dan memperhatikan / mendengarkan bisikan gaib yang mengalir di benak / pikiran kita. Kita harus fokus memperhatikan bisikan gaib yang asalnya dari gaib yang kita sedang berkomunikasi, bukan asal ada bisikan gaib.



(Sumber : Postingan di Beranda FB Msprayitno)
https://www.facebook.com/msprayitno.msprayitno.1


Repost by : Suyadi Jossmart (www.jossmart.com)
Klik : https://sinaurosorogo.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar