"DUNIA ADALAH ALAM KUBUR"""
" kehidupan di dunia ini adalah
kematian" demikian pendapat yang diungkap Syekh Siti Jenar tentang dunia
ini. Secara akal sehat kita bertanya" Apanya yang mati ? Bukankah
justru di dunia ini kita hidup ? Dan kematian itu setelah
meninggalkan dunia ? " pendapat SSJ itu adalah hasil dari suatu
perjalanan spiritual yang panjang, semakin melakukan perjalanan
spiritual maka akan tampak sedikit demi sedikit dibuka tabir yang
menjungkirbalikkan paradigma/ pemahaman masyarakat umum.
Secara
logika hati dan akal, bagi yang sudah tahu tentang dunia spiritual,
metafisik dan kebatinan, dan juga hal yang disebut-sebut dalam berbagai
kitab Suci disebutkan dan bahwa" manusia itu adalah citra Tuhan, manusia
itu adalah khalifah Tuhan, manusia itu adalah rasa Tuhan, yang namanya
gambaran, khalifah dan rasa Tuhan tentu disini ada hal spesial yang luar
biasa yang dimiliki oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Kalau sudah
mengalami pengalaman pribadi tentang Manunggaling kawulo Gusti [ MKG
] tentu hal-hal tersebut akan cepat dipahami, ARTINYA dapat disimpulkan
Sebenarnya manusia itu adalah Tuhan itu sendiri dan Tuhan bagi dirinya
sendiri.
Bukan seperti Firaun yang mengklaim dirinya Tuhan maka
semua orang harus menyembahnya, sekali lagi manusia itu adalah Tuhan itu
sendiri dan Tuhan bagi dirinya sendiri.
Lalu kenapa dunia ini
disebut kematian yang sesungguhnya ? Bagi yang sudah ber MKG atau
minimal memahami konsep MKG atau dalam bahasa saya pribadi lebih senang
menyebut manusia yang sudah berkesadaran tinggi, dunia ini disebut
kematian karena di dunia inilah manusia di paksa maupun terpaksa
dituntut untuk memenuhi kebutuhan nafsunya sendiri mencari nafkah siang
dan malam, membanting tulang demi tuntutan nafsu, seperti tuntutan
lapar, tuntutan mempertahankan kekuasaan, tuntutan mempertahankan
popularitas, tuntutan seksualitas,Tuntutan kedudukan, tuntutan harga
diri dll.
Sehingga yang terjadi di dunia ini adalah pemandangan yang
mengerikan seperti kekerasan dan kemunafikan yang terjadi di mana-mana.
Mayoritas manusia sudah TENGGELAM dalam hiruk pikuk dunia yang tanpa
sadar menjadi kuburan akbar bagi dirinya. Agama yang sebenarnya
dijadikan alat untuk membebaskan manusia dari jerat-jerat dunia, malah
telah kehilangan roh nya sehingga agama sekarang malah dijadikan
PEMBENARAN akan sikap-sikap nya demi mewujudkan tuntutan tuntutan nafsu
di atas. Agama kini telah dijadikan Dewa atau Tuhan oleh para pemeluknya
sendiri. Ciri-ciri agama yang sudah dijadikan dewa adalah seperti yang
terlihat sekarang ini, umat beragama hanya berkeyakinan ajarannya/
syariatnya/hukumnya adalah yang terbenar dan orisinil berasal dari
Tuhan.
Padahal Tuhan itu adalah UNIVERSAL tidak mengkotak-kotakkan manusia dalam suatu agama/keyakinan tertentu.
Kembali ke hidup " Kehidupan di dunia ini adalah kematian " bagi yang
sudah memahami manusia ini adalah Tuhan bagi dirinya sendiri, maka
sebenarnya kalau sudah menjadi Tuhan sudah tidak ada lagi kamus kematian
yang ada adalah kekal dalam keabadian.
Hal ini selaras dengan
sifat Tuhan yaitu Baqa { kekal } bagaimana mewujudkan ke baqaan dalam
jiwa dan diri kita ? Pandanglah dunia dengan seribu satu masalah ini
sebagai jejak jejak untuk melangkah menuju ke kehidupan yang
sesungguhnya.
Hadapilah semua permasalahan kehidupan ini dengan
SESADAR-SADAR NYA adalah pintu pintu masuk untuk menuju gerbang ke
kehidupan yang sesungguhnya. Semakin berat dan extrim suatu masalah yang
dihadapi itu sebenarnya adalah' jalan tol' untuk secepatnya meraih
kunci untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Inilah yang disebut
MENAKLUKAN KEMATIAN di dunia yang penuh daya tarik luar biasa ini.
Namun, semua daya upaya penaklukan itu bukanlah pekerjaan gampang dan
mudah, karena kita mau tak mau harus mempunyai energi yang luar biasa
besar, salah satunya energi itu adalah bersumber dari Sukma yang hidup
dan menghidupkan diri kita. Tanpa ada kebangkitan Sukma, perjalanan
menundukkan kematian hanyalah sebuah euforia psikologi jiwa belaka.
Kehidupan sesungguhnya itu pasca kematian itu sendiri, barulah diri kita
benar-benar akan menjadi Citra Tuhan yang sesungguhnya. Hal ini tentu
akan ditolak oleh para pemikir liberal/ atheis yang menganggap tak ada
kehidupan setelah kematian,ibaratnya nyawa manusia sama dengan nyawa
kucing, ketika mati, maka habislah semua perkara ! Pandangan ini
terlahir dari pemikiran bebas sebebasbebasnya tetapi sama sekali tidak
memperhatikan/ tidak mempercayai adanya Dzat yang hidup dan menghidupkan
dalam diri kita yang tak berwujud/gain. Para pemeluk agama Memang
mereka mempercayai adanya kehidupan eyelash mati, tapi keyakinnanya
sama sekali belum menyentuh hal yang esensi nya, keyakinannya baru kata
nya- katanya termasuk kata kitab suci, katannya ustad, kata ulama, kata
guru dll. Keyakinan yang dogmatis ini tak ada faedahnya sedikitpun,
hanya berguna untuk memuaskan nafsu psikologinya jiwa nya saja.
""
mati dalam kehidupan,mati sajroning Urip, Antal mautt qoblatull maut ""
itulah perilaku sejati dalam mengarungi kehidupan ini, itulah syariat/
tarekat/ tirakat sejati yang sebenarnya. Dengan bahasa sederhana diri
kita hidup dalam kesadaran tinggi, itulah pintu-pintu masuk untuk
memasuki kehidupan sesungguhnya. Pintu itu adalah permasalahan kehidupan
yang menjerat diri kita, bila kita gagal membuka pintu maka pintu
selanjutnya adalah pintu untuk memasuki gerbang kegelapan, maka
selamanya dirinya akan tertimpa masalah demi masalah tanpa putus. Dan
jangan dikira kebahagiaan akan kelimpahan harta dan kepemilikan tahta
itu adalah bukti satu anugerah, itu bisa jadi diri kita sebenarnya sudah
masuk ke dalam kuburan dunia yang paling dalam.
Dunia adalah alam
kematian, dari alam kematian Inilah kita BANGKIT untuk memasuki
kehidupan yang sesungguhnya. Tampa KEBANGKITAN KESADARAN di alam
kematian maka selamanya kita menjadi mayat mayat yang berjalan, dan akan
semakin nyata sebagai mayat bergentayangan ketika ketika ajal tiba.
Masa kebangkitan itu adalah masa hidup di dunia yang pendek ini,bisa 10
tahun, 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, 60 tahun, 70 tahun. Di tahun ke
berapakah HARI BERBANGKIT diri kita terjadi ? Tak ada siapapun yang bisa
mempengaruhi perubahan seseorang, yang mampu melakukan perubahan itu
adalah diri kita sendiri, bukan orang tua, bukan guru, bukan teman,
bukan suami, bukan istri, bukan TUHAN apa lagi Terserah TUHAN !......
SALAM...........
Sumber : https://www.facebook.com/petruk.petruk.7330763 ( Posting 3 Oct 2019)
CATATAN :
Re-posting By : Yaddie Jossmart.com
Foto/gambar hanya pemanis saja, tidak ada hubungannya dengan artikel
Blog ini adalah :
Kumpulan Postingan Ilmu2 Dari Berbagai Sumber Untuk Diri Pribadiku atau Pembaca (Anda)
Syarat Utama! Slalu Baca!"Iqro"baik Teks atau Keadaan Sekitar Kita.
Kosongkan Gelas Pikiran Anda, Kunyah Dulu Sampai Halus .
Saring Ilmu Yang Anda Baca/Dapatkan,
Mau Berpikir. Rasakan,secara akal sehat,pikiran,batin dll (Ilmu Kuwi Kanthi Laku).
Masing2 Individu Memaknai Ilmu TIDAK SAMA.
Berdaulatlah Penuh Pada Diri Pribadimu! Selamat Membaca, Ambil maknanya.
Disini Tidak Melayani Perdebatan, Pertanyaan, Komentar dan dan sejenisnya
Semua Demi Kebaikan "Kebecikan" untuk seluruh Makluk Ciptaan-NYA.
( BLOG ini dibuka dari HP, kurang maksimal, saran buka dari Laptop/Komputer/PC)
BACA , PAHAMI, APLIKASIKAN UTAMA KE DIRI PRIBADI
HARAPAN SAYA PRIBADI , SEMOGA BERMANFAAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar