Syarat Utama! Slalu Baca!"Iqro"baik Teks atau Keadaan Sekitar Kita. Kosongkan Gelas Pikiran Anda, Kunyah Dulu Sampai Halus .Saring Ilmu Yang Anda Baca/Dapatkan, Mau Berpikir. Rasakan,secara akal sehat,pikiran,batin dll (Ilmu Kuwi Kanthi Laku).Masing2 Individu Memaknai Ilmu TIDAK SAMA.Berdaulatlah Penuh Pada Diri Pribadimu! Selamat Membaca, Ambil maknanya.Disini Tidak Melayani Perdebatan.Semua Demi Kebaikan "Kebecikan" untuk seluruh Makluk Ciptaan-NYA.(Buka dari Laptop/Komputer)
Rabu, 03 Juni 2020
Leluhur Dilupakan
" LELUHUR YANG DILUPAKAN
Leluhur atau nenek moyang kita terdahulu, sebutlah mereka para pendiri kerajaan majapahit, sriwijaya, mataram, pajajaran, demak, para pahlawan bangsa, para founding father negara Indonesia dll.
Apakah jasa para leluhur itu harus luntur karena sekarang ini bangsa Indonesia lebih mengingat jasa para leluhur bangsa lain ? Fenomena ini sangat nyata terlihat ketika saat musim Haji, sampai Indonesia kehabisan kuota, perlu waiting list 3 tahun untuk bisa naik haji. Padahal yang di ritualkan di Mekkah/ Madinah sana adalah semacam napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim dan peninggalan Islam semasa kenabian Muhammad SAW. Dan tidak lupa menziarahi makam Rasulullah dan para sahabatnya. Ketahuilah semua prosesi haji itu atau pun umroh itu adalah perjalanan simbolisasi dari perjalanan sejati yaitu perjalanan ke dalam diri sendiri. Umat Islam seperti terhipnotis massal dikiranya perjalanan yang memakan waktu yang lama, usaha yang keras dan biaya yang besar itu adalah perjalanan ke bait Allah menjadi tamu Allah. padahal Allah itu Allah PRIBADI nya sendiri sudah melekat dalam diri nya sendiri, menjadi terlupakan karena akal pikirannya sudah terdoktrin/ terdogma yang luar biasa oleh syariat agamanya sendiri dan dirinya lebih menyenangi nama Allah yang diperebutkan banyak orang.
Bagaimana jika kita bertandang ke tempat keramat atau makam para leluhur sendiri yang di sucikan ? Jangan heran, akan dicap sesat/ klenik/ kafir/ pesugihan dll oleh kaum agamawan. Disinilah bukti bangsa ini pula bikin spiritual sudah TERJAJAH oleh produk agama impor. Padahal tanpa jasa para leluhur bangsa kita tak mungkin ada seperti sekarang ini. Sering argumentasi saya ini dibalas dengan tinggian mana leluhur atau Allah ? ' Nah, Mungkin pertanyaan ini ada di benak pikiran anda. Lalu saya tanya siapa sih sebenarnya Allah itu ?Allah itu hanya sekedar KONSEP atau gagasan saja, yang mana di dalam konsep itu terjadi multi tafsir tergantung daya jelajah pemikirannya. Dalam bahasa agama sering disebut" Wali Wali Allah itu tidak pernah mati karena mereka hidup kekal, tentram dan bahagia" Leluhur sendiri itulah para Wali-Wali. Sangat beruntung bangsa Indonesia mempunyai banyak leluhur-leluhur yang suci. Wali Allah itu tidak perlu beragama Islam, sebelum Islam datang ke nusantara ini, para Wali Allah beragama pagan/ lokal hindu,budha,kristen dll.
Sudah saatnya bumi pertiwi ini dibangkitkan JATIDIRI bangsanya sendiri yang sebenarnya adalah bangsa yang bertuhan/ berspiritual. Sangat tragis, bila kekayaan lokal bangsa ini menjadi semacam budaya, yang akhirnya jadi bahan tontonan hiburan para turis. Lebih tragis lagi, ini pakaian kebaya sudah dianggap pakaian tidak bermoral karena tidak tertutup, maka jadilah jilbab/ kerudung menggantikannya. Yang diuntungkan ? para kapitalis yang menjual agama sebagai slogan/ iklannya. Orang yang mengira kebudayaan asing itu adalah berbau BARAT/ Amerika, kalaulah kita jeli kebudayaan barat itu cuma sekedar hiburan/ aksesoris/ gaya hidup belaka jadi tidak terlalu parah karena hanya dinikmati oleh segelintir orang. Yang parah itu adalah penjajahan mind set/ pola pikir/ ideologi, sekarang agama import dengan segudang hukum dan syariatnya benar-benar telah menutupi rapat-rapat pikiran dan hati bangsa ini secara massif.
Sehingga yang terjadi adalah rasa kebencian, permusuhan yang tidak jarang menimbulkan kekerasan, pengrusakan dan pembunuhan antar golongan/ agama yang berbeda.
""Aku turunkan Rasul sesuai dengan bahasa kaumnya"" ini adalah ayat Alquran yang sebenarnya berlaku universal. Rasul yang berbicara dengan bahasa ibu (kaum) itu lah yang bisa disebut LELUHUR kita sendiri. Mana mungkin Ibu Ratu Kidul berbicara dengan bahasa Arab ?Leluhurnya Nabi Muhammad itu Ibrahim, Musa, Yusuf, Isa maka sang nabi pun menemui mereka (para pendahulunya) ketika Mikraj, Nah,kita apakah mungkin bisa langsung berhubungan dengan Nabi Musa, Nabi Muhammad dll tanpa melalui leluhurnya sendiri ? Inilah tata krama berspiritual, kenapa kita tidak mulai dari yang dekat sebelum yang jauh ?
Sampai akhirnya, kita akan sadar maka yang disebut ADAM sebagai manusia pertama itu adalah simbol leluhur manusia yang pertama. Dan jadilah diri kita sebagai ADAM atau menjadi manusia yang batinya sudah dipenuhi oleh para leluhur lokal, regional dan internasional. Mereka adalah para Aulia/ guru sejati kita yang akan memberikan bimbingan untuk berjalan dimuka bumi dengan benar dan lurus.
Di Banyuwangi ada Aku,
Kenapa engkau bertandang jauh ke Mekah ?
Yang di Mekah pun ada di Banyuwangi,
Kenapa malah engkau gusur Aku Disini ?
Maka sia-sia lah perjalananmu ke
Mekah itu !....
SALAM
Sumber : https://www.facebook.com/petruk.petruk.7330763 ( Posting 15 Okt 2019)
CATATAN :
Re-posting By : Yaddie Jossmart.com
Foto/gambar hanya pemanis saja, tidak ada hubungannya dengan artikel
Blog ini adalah :
Kumpulan Postingan Ilmu2 Dari Berbagai Sumber Untuk Diri Pribadiku atau Pembaca (Anda)
Syarat Utama! Slalu Baca!"Iqro"baik Teks atau Keadaan Sekitar Kita.
Kosongkan Gelas Pikiran Anda, Kunyah Dulu Sampai Halus .
Saring Ilmu Yang Anda Baca/Dapatkan,
Mau Berpikir. Rasakan,secara akal sehat,pikiran,batin dll (Ilmu Kuwi Kanthi Laku).
Masing2 Individu Memaknai Ilmu TIDAK SAMA.
Berdaulatlah Penuh Pada Diri Pribadimu! Selamat Membaca, Ambil maknanya.
Disini Tidak Melayani Perdebatan, Pertanyaan, Komentar dan dan sejenisnya
Semua Demi Kebaikan "Kebecikan" untuk seluruh Makluk Ciptaan-NYA.
( BLOG ini dibuka dari HP, kurang maksimal, saran buka dari Laptop/Komputer/PC)
BACA , PAHAMI, APLIKASIKAN UTAMA KE DIRI PRIBADI
HARAPAN SAYA PRIBADI , SEMOGA BERMANFAAT


Tidak ada komentar:
Posting Komentar