Selasa, 05 Februari 2019

-Makna Tembang Lir-Ilir

 28 September 2017 ·

Makna tembang Lir ilir dan
( Sunan Kalijaga )

*Makna Dibalik Tembang Lir-ilir Sunan Kalijaga

Tembang ini diawali dengan Lir-ilir yang artinya bangunlah, bangunlah atau bisa diartikan sadarlah. Dalam hal ini kita diminta bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Allah SWT dalam diri kita, karena itu digambarkan dengan Tandure wus sumilir atau tanaman mulai bersemi dan pohon-pohon yang mulai menghijau bagaikan Tak ijo royo-royo.

Semua itu tergantung pada diri kita masing-masing, apakah mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita itu mati. Atau kita bangun dan terus berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar yang kemudian kita akan mendapatkan kebahagian seperti bahagianya ‘pengantin baru’ atau Tak sengguh temanten anyar.

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok ‘Cah angon’? Bukan ‘Pak Jendral’ , ‘Pak Presiden’ atau yang lain? Mengapa dipilih ‘Cah angon’? Cah angon disini maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu ‘menggembalakan’ makmumnya dijalan yang benar. Karena kita telah diberi sesuatu oleh Allah SWT untuk kita gembalakan yaitu ‘hati’. Bisakah kita gembalakan hati kita ini dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya.

Si anak gembala diminta untuk memanjat pohon belimbing atau Penekno blimbing kuwi yang notabene buah belimbing itu berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi belimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah belimbing yang menggambarkan Rukun Islam yang merupakan dasar dari agama Islam.

Pohon belimbing itu memang licin dan meskipun dalam keadaan susah untuk melaksanakannya, kita harus bisa memanjatnya sekuat tenaga yang artinya kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya bagaikan Lunyu-lunyu penekno. Lalu gunanya untuk apa? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita atau Kanggo mbasuh dodotiro yang bermakna bahwa pakaian itu ibarat taqwa dan pakaian taqwa inilah yang harus di bersihkan.

Dodotiro yang berarti adalah pakaian taqwa kita memang harus di bersihkan, yang jelek-jelek harus kita singkirkan dan kita tinggalkan. Namun sebagai manusia biasa pakaian taqwa itu terkadang rusak atau terkoyak-koyak seperti Kumitir bedah ing pinggir sehingga perlu perbaikan untuk menjahitnya dan dibenahi kembali bagaikan Dondomono jlumatono agar menjadi pakaian yang indah, karena sebaik-baiknya pakaian adalah pakaian taqwa pada diri kita. Kanggo sebo mengko sore atau untuk menghadapi nanti sore, kata ini mempunyai makna bahwa suatu saat kita semua pasti akan mati, karena itu kita selalu diminta untuk memperbaiki pakaian taqwa kita, agar kelak kita siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Allah SWT.

Mumpung padhang rembulane, Mumpung jembar kalangane atau mumpung rembulan bersinar terang dan mumpung masih banyak waktu luang, kata-kata ini mengandung arti bahwa ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, dan ketika masih banyak kesempatan karena diberi umur yang masih menempel pada hayat kita maka pergunakanlah waktu dan kesempatan itu untuk bisa memperbaiki diri agar senantiasa selalu bertaqwa kepada Allah SWT.

Selanjutnya pada lirik Yo surako surak iyo atau bersoraklah dengan sorakan iya untuk menyambut seruan ini dengan sorak sorai (bergembira), artinya ketika kita masih sehat dan mempunyai waktu luang. Jika ada yang mengingatkan, maka jawablah dengan ‘Iya’. Sambutlah seruan tersebut dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

*Dari uraian diatas dapat kita lihat bagaimana Sunan Kalijaga secara jenius menerjemahkan ajaran Islam dalam rangkaian syair dan tembang pendek yang memiliki makna mendalam mengenai perlunya seseorang dalam memperhatikan hidup kita selama di dunia ini. Jangan hanya berorientasi pada keduniawian melainkan berorientasi pada kehidupan dalam alam kekekalan yaitu akhirat. Sehingga kehidupan dunia dan akhirat harus seimbang.

*Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa kita mempunyai pertanggungjawaban pribadi kepada Tuhan, karena semua perbuatan kita akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Sunan Kalijaga menawarkan Islam sebagai jalan dan bekal untuk menghadapi kematian dan pertanggungjawaban akhir. Dengan berbekal mengenai keislaman dengan Rukun Islamnya yaitu sahadat, sholat, zakat, puasa, haji dan senantiasa melaksanakan semua perinyahNya dan menjauhi semua laranganNya untuk mendapatkan kehidupan yang baik diakhirat nanti.


(Sumber : Postingan di Beranda FB Msprayitno)
https://www.facebook.com/msprayitno.msprayitno.1


Repost by : Suyadi Jossmart  www.jossmart.com
Klik : https://sinaurosorogo.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar