*HIKMAH MENYEBUT HARI AHAD(akat)*
Assalammuallaikum wr wb.
Saudara seiman yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata'ala ...
Pada tahun 1980an perkataan Ahad masih terdengar di Indonesia tetapi akhirnya terus menghilang dan di gantikan dengan " minggu " .
Pada waktu itu , bahkan hingga saat ini ada yang belum tahu apa makna dari kata Ahad khususnya untuk menyebut hari.
Mengapa begitu cepat masyarakat mayoritas di nusantara menggantikannya dengan sebutan minggu.
Sebelum Tahun 1960, tidak pernah disebut nama hari yg bertuliskan minggu ,selalu tertulis hari Ahad .
Begitu juga penanggalan di kalender tempo dulu, masyarakat Indonesia tidak mengenal sebutan Minggu.
Kita semua sepakat bahwa kalender atau penanggalan di Indonesia telah terbiasa dan terbudaya untuk menyebut hari AHAD di dalam setiap pekan (7 hari) dan telah berlaku sejak periode yg cukup lama.
Bahkan telah menjadi ketetapan di dalam Bahasa Indonesia.
Lalu mengapa sebutan hari Ahad berubah menjadi hari Minggu?
Kelompok dan kekuatan siapakah yang mengubahnya?
Apa dasarnya ?
Telah kita ketahui bersama bahwa nama hari yang telah resmi dan kokoh tercantum di dalam penanggalan Indonesia sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dahulu adalah dengan sebutan :
1. Ahad (al-Ahad = hari kesatu),
2. Senin (al-Itsnayn=hari kedua),
3. Selasa (al-Tsalaatsa’ = hari ketiga)
4. Rabu (al-Arba’aa = hari keempat),
5. Kamis (al-Khamsatun = hari kelima),
6. Jum’at (al-Jumu’ah = hari keenam = hari berkumpul/berjamaah),
7. Sabtu (as-Sabat=hari ketujuh).
Nama hari tersebut sudah menjadi kebiasaan dan terpola di dalam semua kerajaan di Nusantara Indonesia.
Hal ini karena Islamlah agama yang pertama kali masuk di Indonesia dan menjadikan Syari'at sebagai dasar kehidupan masyarakat..pada ketika itu kehidupan masyarakat sangat aman , tentram dan damai di bawah payung syari'at Allah Ta'ala.
Akan tetapi Belanda masuk dengan membawa ribuan tentara dan di antara tentara itu ialah misionaris yang di tujukan untuk menyebarkan agama kristian.
Mereka kemudian merubah hukum syari'at menjadi hukum buatan manusia. Hanya Aceh yang masih mengekalkan hukum syari'at di Indonesia.
Masyarakat Nusantara di kenal sifatnya yang baik hati pada siapapun yang datang...dan mempunyai sifat toleransi yang tinggi sehingga tanpa di sadari sifat toleransi yang keterlaluan tersebut menyeret sebagian masyarakat untuk menerima ajaran Penjajah Belanda hingga berdirilah gereja-gereja di tanah air ... dan melahirkan ribuan misionaris pribumi yang bertugas untuk menyebarkan agamanya dengan cara yang di sukai oleh masyarakat nusantara ...yaitu menanamkan kebaikan dan juga memberi sumbangan berupa materi pada setiap orang yang baru menerima agama tersebut.
Sasaran mereka ialah masyarakat golongan miskin yang tinggal di pedalaman dan juga golongan miskin yang berada di kota-kota di nusantara.
Sejak penjajahan Belanda itu pula berbagai macam budaya baru yang tidak sehat mulai di sebarkan kepada masyarakat tanpa di sadari ...
Diantara budaya baru yang paling menonjol ialah seperti : minum minuman keras , perjudian /permainan kartu judi dan domino, freesex , hutang berunsurkan riba , joget-joget yang penuh dengan syarat erotisnya , percampuran diantara lelaki dan wanita , mengeluarkan wanita-wanita muslim untuk keluar bekerja setaraf dengan kaum lelaki melalui emansipasi wanita dengan tujuan supaya tiada lagi wanita/seorang ibu yang dapat mendidik anak-anak dan keluarganya dsb yang menuju kehidupan penuh kebebasan ( liberal ) tanpa terikat dengan syari'at Islam...
Mengeluarkan wanita-wanita dari rumah itu merupakan hal yang sangat penting bagi penjajah Belanda karena jika wanita-wanita tetap di dalam rumah maka anak-anak dan keluarga akan menjadi pandai dan berjaya dalam hidupnya hal ini akan memajukan Islam... karena didikan dari seorang wanita yang bergelar sebagai seorang ibu mampu membawa perubahan besar pada negara dan agama..hal ini akan membawa pada kerugian karena menghalang tujuan mereka untuk memurtadkan semua umat Islam di Nusantara.
Jadi Belanda bukan sekedar menjajah dengan menumpahkan darah akan tetapi mereka juga mengontrol pemikiran melalui media dan ajarannya selain itu juga menanamkan budaya baru yang sejajar dengan New Word Order.
Bukan hanya itu mereka juga berhasil menghapus hampir semua yang berhubungan dengan Islam ...Islam tidak boleh bangkit , kecuali hanya sholat dan mengaji di rumah , masjid , pondok dan juga suara Azan dan apapun hal - hal yang dianggap tidak berhubungan dengan politik , ekonomi dan pembangunan negara.
Belanda juga telah berhasil memalsukan sejarah .
Kembali soal sebutan " Ahad " untuk hari pertama dalam kalendar...
Sungguh sebutan Ahad tersebut merupakan berkat jasa positif penyebaran budaya secara elegan dan damai serta besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yang membawa penanggalan Arab pada awal kedatangannya.
Sedangkan kata MINGGU diambil dari bahasa Portugis, Domingo (dari bahasa Latin Dies Dominicus yang berarti “Dia Do Senhor”, atau HARI TUHAN KITA).
Astaghfirullahal Adziim.
Dalam bahasa Indonesia yang lebih awal, kata ini dieja sebagai Dominggu dan sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini dieja sebagai Minggu.
Jadi, kita pasti paham siapa yang dimaksud TUHAN KITA, bagi yg beribadah di hari minggu tersebut.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Menurut suatu kajian bahwa dengan dana yang cukup besar dari luar negeri disalurkan untuk tujuan menjalankan agenda - agenda kumpulan tersebut diantaranya untuk memonopoli percetakan media seperti buku , majalah dan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia.
Hingga pada tahun 1980an masyarakat Indonesia masih menerima kalendar secara gratis melalui Toko-toko dan kantor-kantor tertentu di seluruh nusantara. Dan berakhir sekitar 1990an...
Percetakan kalender tersebut dibayar agar menghilangkan kata AHAD dan diganti dengan perkataan MINGGU.
Setelah kalender jadi, lalu dibagikan secara gratis atau dijual secara obral (sangat murah).
Dampaknya adalah:
Kaum penjajah telah berhasil mengontrol pemikiran masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam...dan secara tidak disadari masyarakat nusantara telah berhasil di arahkan untuk mengikuti kehendak mereka.
Dan akhirnya kata minggu dengan sangat mudah diterima dan menggantikan ahad dengan sebutan Minggu di dalam penanggalan di Indonesia.
Kita lihat betapa licin dan halusnya cara mereka untuk menyesatkan kita melalui berbagai macam cara.
Di dalam penanggalan yang disebarkan secara gratis itu pula sering kali dicetak gambar - gambar yang dapat merubah kehidupan mengikut kehendak mereka seperti gambar bintang-bintang pujaan/artis yang tidak mengenakan hijab dan berpakaian serba sexi supaya wanita Indonesia mulai membuka hijabnya dan juga mulai memuja bintang pujaannya tersebut dengan tujuan supaya hati masyarakat Islam tidak lagi mengingat Allah Subhanahu Wata'ala.
Lihatlah pada saat ini mereka telah berhasil meninggalkan budaya dan ajaran baru... untuk di terapkan di Indonesia.
Sebuah senjata yang lebih bahaya daripada senjata api karena bertujuan untuk menghancurkan aqidah umat Islam.
Semoga kita dapat menyadari secepatnya dan mulai menyusun langkah dan strategi supaya dapat mengembalikan kehidupan masyarakat pada kehidupan Islami yang berlandaskan pada syari'at Allah Subhanahu Wata'ala supaya selamat di dunia dan di akhirat walaupun dengan UU negara yang sama tetapi dengan nafas Islam itu kehidupan masyarakat baik muslim ataupun non muslim akan lebih sejahtera dan selamat.
Sangat Penting bagi umat beragama Islam berupaya untuk mengembalikan kata Ahad .
Karena bagi umat Islam kata Ahad mengingatkan kepada nama Allah Subhanahu Wata'ala yang Maha Ahad sama dengan MahaTunggal/ Maha Satu / Maha Esa.
Ini bermakna bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Kata Ahad dalam Islam adalah sebagai bagian sifat Allah Subhanahu Wata'ala yang sangat penting dan mengandung makna utuh melambangkan bahwa Allah Subhanahu Wata'ala itu Tuhan Yang Maha Esa ( Laa illaha illallaah )
Oleh karena itu sebisa mungkin marilah kita sama-sama mengganti perkataan minggu dengan menyebut AHAD.
Dan untuk perkataan dalam 7 (tujuh) hari maka sebutlah " SEPEKAN " bukan seminggu.
Sebagaimana masyarakat muslim di seluruh dunia terutama di Asia seperti Malaysia , Singapura , Brunei dsb mereka semua baik muslim atau non muslim menyebutnya sebagai hari Ahad bukan minggu.
Semoga dengan asbab pencerahan ini kita dapat menyadari bahwa betapa pentingnya menyebut hari Ahad karena itu berhubungan langsung dengan tauhid kita.
Waallahu a'lam bishowab.
Salam AHAD (akat..........ana katon ana nyata)
(Sumber : Postingan di Beranda FB Msprayitno)
https://www.facebook.com/msprayitno.msprayitno.1
Repost by : Suyadi Jossmart (www.jossmart.com)
Klik : https://sinaurosorogo.blogspot.com
Assalammuallaikum wr wb.
Saudara seiman yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata'ala ...
Pada tahun 1980an perkataan Ahad masih terdengar di Indonesia tetapi akhirnya terus menghilang dan di gantikan dengan " minggu " .
Pada waktu itu , bahkan hingga saat ini ada yang belum tahu apa makna dari kata Ahad khususnya untuk menyebut hari.
Mengapa begitu cepat masyarakat mayoritas di nusantara menggantikannya dengan sebutan minggu.
Sebelum Tahun 1960, tidak pernah disebut nama hari yg bertuliskan minggu ,selalu tertulis hari Ahad .
Begitu juga penanggalan di kalender tempo dulu, masyarakat Indonesia tidak mengenal sebutan Minggu.
Kita semua sepakat bahwa kalender atau penanggalan di Indonesia telah terbiasa dan terbudaya untuk menyebut hari AHAD di dalam setiap pekan (7 hari) dan telah berlaku sejak periode yg cukup lama.
Bahkan telah menjadi ketetapan di dalam Bahasa Indonesia.
Lalu mengapa sebutan hari Ahad berubah menjadi hari Minggu?
Kelompok dan kekuatan siapakah yang mengubahnya?
Apa dasarnya ?
Telah kita ketahui bersama bahwa nama hari yang telah resmi dan kokoh tercantum di dalam penanggalan Indonesia sejak sebelum zaman penjajahan Belanda dahulu adalah dengan sebutan :
1. Ahad (al-Ahad = hari kesatu),
2. Senin (al-Itsnayn=hari kedua),
3. Selasa (al-Tsalaatsa’ = hari ketiga)
4. Rabu (al-Arba’aa = hari keempat),
5. Kamis (al-Khamsatun = hari kelima),
6. Jum’at (al-Jumu’ah = hari keenam = hari berkumpul/berjamaah),
7. Sabtu (as-Sabat=hari ketujuh).
Nama hari tersebut sudah menjadi kebiasaan dan terpola di dalam semua kerajaan di Nusantara Indonesia.
Hal ini karena Islamlah agama yang pertama kali masuk di Indonesia dan menjadikan Syari'at sebagai dasar kehidupan masyarakat..pada ketika itu kehidupan masyarakat sangat aman , tentram dan damai di bawah payung syari'at Allah Ta'ala.
Akan tetapi Belanda masuk dengan membawa ribuan tentara dan di antara tentara itu ialah misionaris yang di tujukan untuk menyebarkan agama kristian.
Mereka kemudian merubah hukum syari'at menjadi hukum buatan manusia. Hanya Aceh yang masih mengekalkan hukum syari'at di Indonesia.
Masyarakat Nusantara di kenal sifatnya yang baik hati pada siapapun yang datang...dan mempunyai sifat toleransi yang tinggi sehingga tanpa di sadari sifat toleransi yang keterlaluan tersebut menyeret sebagian masyarakat untuk menerima ajaran Penjajah Belanda hingga berdirilah gereja-gereja di tanah air ... dan melahirkan ribuan misionaris pribumi yang bertugas untuk menyebarkan agamanya dengan cara yang di sukai oleh masyarakat nusantara ...yaitu menanamkan kebaikan dan juga memberi sumbangan berupa materi pada setiap orang yang baru menerima agama tersebut.
Sasaran mereka ialah masyarakat golongan miskin yang tinggal di pedalaman dan juga golongan miskin yang berada di kota-kota di nusantara.
Sejak penjajahan Belanda itu pula berbagai macam budaya baru yang tidak sehat mulai di sebarkan kepada masyarakat tanpa di sadari ...
Diantara budaya baru yang paling menonjol ialah seperti : minum minuman keras , perjudian /permainan kartu judi dan domino, freesex , hutang berunsurkan riba , joget-joget yang penuh dengan syarat erotisnya , percampuran diantara lelaki dan wanita , mengeluarkan wanita-wanita muslim untuk keluar bekerja setaraf dengan kaum lelaki melalui emansipasi wanita dengan tujuan supaya tiada lagi wanita/seorang ibu yang dapat mendidik anak-anak dan keluarganya dsb yang menuju kehidupan penuh kebebasan ( liberal ) tanpa terikat dengan syari'at Islam...
Mengeluarkan wanita-wanita dari rumah itu merupakan hal yang sangat penting bagi penjajah Belanda karena jika wanita-wanita tetap di dalam rumah maka anak-anak dan keluarga akan menjadi pandai dan berjaya dalam hidupnya hal ini akan memajukan Islam... karena didikan dari seorang wanita yang bergelar sebagai seorang ibu mampu membawa perubahan besar pada negara dan agama..hal ini akan membawa pada kerugian karena menghalang tujuan mereka untuk memurtadkan semua umat Islam di Nusantara.
Jadi Belanda bukan sekedar menjajah dengan menumpahkan darah akan tetapi mereka juga mengontrol pemikiran melalui media dan ajarannya selain itu juga menanamkan budaya baru yang sejajar dengan New Word Order.
Bukan hanya itu mereka juga berhasil menghapus hampir semua yang berhubungan dengan Islam ...Islam tidak boleh bangkit , kecuali hanya sholat dan mengaji di rumah , masjid , pondok dan juga suara Azan dan apapun hal - hal yang dianggap tidak berhubungan dengan politik , ekonomi dan pembangunan negara.
Belanda juga telah berhasil memalsukan sejarah .
Kembali soal sebutan " Ahad " untuk hari pertama dalam kalendar...
Sungguh sebutan Ahad tersebut merupakan berkat jasa positif penyebaran budaya secara elegan dan damai serta besarnya pengaruh masuknya agama Islam ke Indonesia yang membawa penanggalan Arab pada awal kedatangannya.
Sedangkan kata MINGGU diambil dari bahasa Portugis, Domingo (dari bahasa Latin Dies Dominicus yang berarti “Dia Do Senhor”, atau HARI TUHAN KITA).
Astaghfirullahal Adziim.
Dalam bahasa Indonesia yang lebih awal, kata ini dieja sebagai Dominggu dan sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kata ini dieja sebagai Minggu.
Jadi, kita pasti paham siapa yang dimaksud TUHAN KITA, bagi yg beribadah di hari minggu tersebut.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Menurut suatu kajian bahwa dengan dana yang cukup besar dari luar negeri disalurkan untuk tujuan menjalankan agenda - agenda kumpulan tersebut diantaranya untuk memonopoli percetakan media seperti buku , majalah dan kalendar selama bertahun-tahun di Indonesia.
Hingga pada tahun 1980an masyarakat Indonesia masih menerima kalendar secara gratis melalui Toko-toko dan kantor-kantor tertentu di seluruh nusantara. Dan berakhir sekitar 1990an...
Percetakan kalender tersebut dibayar agar menghilangkan kata AHAD dan diganti dengan perkataan MINGGU.
Setelah kalender jadi, lalu dibagikan secara gratis atau dijual secara obral (sangat murah).
Dampaknya adalah:
Kaum penjajah telah berhasil mengontrol pemikiran masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam...dan secara tidak disadari masyarakat nusantara telah berhasil di arahkan untuk mengikuti kehendak mereka.
Dan akhirnya kata minggu dengan sangat mudah diterima dan menggantikan ahad dengan sebutan Minggu di dalam penanggalan di Indonesia.
Kita lihat betapa licin dan halusnya cara mereka untuk menyesatkan kita melalui berbagai macam cara.
Di dalam penanggalan yang disebarkan secara gratis itu pula sering kali dicetak gambar - gambar yang dapat merubah kehidupan mengikut kehendak mereka seperti gambar bintang-bintang pujaan/artis yang tidak mengenakan hijab dan berpakaian serba sexi supaya wanita Indonesia mulai membuka hijabnya dan juga mulai memuja bintang pujaannya tersebut dengan tujuan supaya hati masyarakat Islam tidak lagi mengingat Allah Subhanahu Wata'ala.
Lihatlah pada saat ini mereka telah berhasil meninggalkan budaya dan ajaran baru... untuk di terapkan di Indonesia.
Sebuah senjata yang lebih bahaya daripada senjata api karena bertujuan untuk menghancurkan aqidah umat Islam.
Semoga kita dapat menyadari secepatnya dan mulai menyusun langkah dan strategi supaya dapat mengembalikan kehidupan masyarakat pada kehidupan Islami yang berlandaskan pada syari'at Allah Subhanahu Wata'ala supaya selamat di dunia dan di akhirat walaupun dengan UU negara yang sama tetapi dengan nafas Islam itu kehidupan masyarakat baik muslim ataupun non muslim akan lebih sejahtera dan selamat.
Sangat Penting bagi umat beragama Islam berupaya untuk mengembalikan kata Ahad .
Karena bagi umat Islam kata Ahad mengingatkan kepada nama Allah Subhanahu Wata'ala yang Maha Ahad sama dengan MahaTunggal/ Maha Satu / Maha Esa.
Ini bermakna bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Kata Ahad dalam Islam adalah sebagai bagian sifat Allah Subhanahu Wata'ala yang sangat penting dan mengandung makna utuh melambangkan bahwa Allah Subhanahu Wata'ala itu Tuhan Yang Maha Esa ( Laa illaha illallaah )
Oleh karena itu sebisa mungkin marilah kita sama-sama mengganti perkataan minggu dengan menyebut AHAD.
Dan untuk perkataan dalam 7 (tujuh) hari maka sebutlah " SEPEKAN " bukan seminggu.
Sebagaimana masyarakat muslim di seluruh dunia terutama di Asia seperti Malaysia , Singapura , Brunei dsb mereka semua baik muslim atau non muslim menyebutnya sebagai hari Ahad bukan minggu.
Semoga dengan asbab pencerahan ini kita dapat menyadari bahwa betapa pentingnya menyebut hari Ahad karena itu berhubungan langsung dengan tauhid kita.
Waallahu a'lam bishowab.
Salam AHAD (akat..........ana katon ana nyata)
(Sumber : Postingan di Beranda FB Msprayitno)
https://www.facebook.com/msprayitno.msprayitno.1
Repost by : Suyadi Jossmart (www.jossmart.com)
Klik : https://sinaurosorogo.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar