Rabu, 03 Juni 2020

Kesadaran 1

"KESADARAN 1"

Saya baca di forum diskusi spiritual yang cenderung berpaham communist dan sosialist yang memberikan stempel terhadap agama sebagai ideologi penyembah Tuhan yang tidak jelas, pengikut mythos kitab suci

dan pengikut cerita cerita tahyul dari para nabi dan sahabat-sahabat nya.
Kalaulah berfikir sederhana, untuk apa kita menanggapi mereka ? toh dalam agama pun ku berlaku hukum lakum dinukum walyaden-- agama mu agama mu agama mu, agama ku agama ku --Tapi, tidakkah kita sedikit terkesima minimal terhenyak oleh adanya statemen mereka yang notabene di KTP -nya masih tercatat sebagai islam, terhenyak karena pemikirannya yang berani, terhenyak karena tidak ada ketakutan sama sekali dalam diri mereka. Bandingkan, dengan umat beragama yang mayoritas sama sekali tidak berani berargumentasi terhadap ayat-ayat kitab suci dan hadist- hadist nya karena selalu dibayang-bayangi paranoid takut terhadap siksaan api neraka dan stempel kafir.
Padahal kalau lah kita jujur terhadap diri sendiri, kita sangat lah tidak menguasai kitab suci, sangatlah tidak faham apa yang dikatakan Nabi, kita hanyalah sebagai segerombolan pengikut buta yang tidak mau tahu tentang benar apa tidak agama atau ajaran yang kita anut, pokok nya jadi pengikut, cukup ! selebih nya, mencari kekayaan harta yang melimpah entah jalan halal atau haram, mencari kehidupan yang enak dan mewah di dunia, sebagai simbol anugerah Tuhan.

Menurut saya pribadi, sangat rendah bila nilai-nilai agama hanya dijadikan tempelan di badan atau lips service semata, amatlah murah bila meyakini dengan menjalankan ritual agama yang teratur bagai anjing pudel mengikuti pergerakan arah jarum jam. Agama itu adalah ciptaan manusia, mereka yang menciptakan agama adalah bukan orang sembarangan, mereka berhasil mentransformasikan perjalanan spiritual pribadinya ke dalam bingkai agama. Yang namanya bingkai tentu harus dibuat semenarik mungkin dengan harapan mampu menjaring pengikut sebanyak-banyaknya.

Intinya, kita sebagai manusia yang hidup ribuan tahun lalu di era para pencipta agama tersebut tentunya haruslah menyadari dan meyakini bahwa diri kita adalah tak ada bedanya dengan mereka. Diri kita itu terdiri dari unsur yang sama seperti: darah, daging, tulang, kulit yang membedakannya adalah pemahaman jiwa tentang konsep ketuhanan itu sendiri. Tidaklah salah bila kita sendiri berhasrat dan bercita-cita ingin seperti mereka, Mereka para nabi, Rasul, Wali, itulah orang orang yang suci yang harus kita teladani pemahamannya tentang konsep Ketuhanan.

Memang ada perintah untuk mengikuti apa yang diperintahkan oleh kitab sucinya, tentunya perintah itu adalah perintah untuk melakukan awal perjalanan spiritual sampai akhirnya perintah itu datang dari hati nuraninya sendiri. apakah cukup sampai di situ ?tentu belum ! ternyata suara hati nurani itu tergantung lurus dengan pemahaman dan pola pikir akalnya, semakin pola pikirnya terbuka semakin tinggi derajat suara hati nuraninya, jadi yang membikin kita seperti rasul wali itu tak lain adalah dari upaya kita sendiri.

Bagaimana bisa suara hati nurani kita akan menjadi roh pembimbing yang kuat bila kenyataan pola pemikiran kita sudah di blok oleh dogma-dogma dan dalil agama, bagaimana bisa suara hati nurani kita bersuara bila dalam diri kita masih tersimpan penyakit fanatik dan taklid buta. Sehingga kita seharusnya bergaul terbuka dengan semua lapisan masyarakat terutama dengan mereka yang berpandangan bahwa Tuhan itu adalah KONSEP, karena penemuan mereka itu sudah didasari oleh daya nalar dan logika yang tinggi dan terus-menerus, Albert Einstein mengatakan Tuhan itu adalah alam semesta itu sendiri, sehingga keluar lah rumus E = MC 2 yang dikenal dengan teori relativitas tentang alam semesta yang tak terbatas.

Ini salah satu contoh saja, banyak teori lain yang dikemukakan oleh orang terkemuka. Apakah pendapat Einstein itu salah ? Bagaimana kalau kita sinergikan dengan ayat " Timur dan Barat adalah kepunyaan Ku kemanapun kau menghadap disitulah wajah KU ", Tidak kah di sini ada kesamaan ? tentu, hal ini akan menjadi debatabel tapi kalau yang sudah hidup hati nuraninya tanyalah kepada diri sendiri tentang hal ini, karena itulah jawaban yang paling benar ! bila kenyataannya tak ada jawaban alias kabur, berarti kita masih kafir.

Pandangan bahwa agama kita yang paling benar, adalah pandangan yang penuh emosional, jelas emosional ini keluar dari nafsu amarah kita. Yang terbenar itu adalah bila kita sudah berhasil mengurai dan membedah agama kita sendiri sehingga dengan penuh kesadaran dan keyakinan ternyata agama itu adalah diri kita sendiri yang asli, yang terbebas dari kontaminasi dunia luar. Sehingga di lidah kita akan keluar kata-kata yang merupakan kata-kata dari diri sejati kita, dengan kata lain perkataan Tuhan dalam diri manusia.

Dan nama agama itu cuma istilah belaka, sebenarnya kita bebas mau menamakan dia itu apa, terserah kita, terserah Tuhan. Hidup menyatu antara diri kita dalam tubuh kita bersinergy menjalani kehidupan tanpa ada rasa ketakutan, kegelisahan, kepanikan, semua dijalani dengan rasa yg kuat dan tinggal pekerjaan lain adalah mensinergikan diri kita dengan wajah Tuhan yaitu alam semesta.
Keunggulan mereka yang berusaha melakukan perjalanan menemukan kebenaran berbasis agama, adalah pijakan mereka adalah hati nurani yang berasal dari alam semesta yang tak terbatas, sedangkan para communist dan socialist pijakan mereka adalah akal pikiran dan logika yang bersumber dari otak.

Tak usah lah berpolemik dengan perbedaan pijakan ini, yang utama adalah semuanya mengarah kepada KEYAKINAN terhadap diri sendiri. Toh, semua cepat atau lambat akan bermuara di salah satu lautan, yaitu lautan yang tak terbatas itu adalah saat ini, bukan masa lalu, bukan masa depan, bukan sesudah mati, tetapi saat ini, sekarang ini juga !.

SALAM...

Sumber : https://www.facebook.com/petruk.petruk.7330763 (Posting 15 Oktober 2019)


CATATAN :
Re-posting By : Yaddie Jossmart.com
Foto/gambar  hanya pemanis saja, tidak ada hubungannya dengan artikel

Blog ini adalah :
Kumpulan Postingan Ilmu2 Dari Berbagai Sumber Untuk Diri Pribadiku atau Pembaca (Anda)

Syarat Utama! Slalu Baca!"Iqro"baik Teks atau Keadaan Sekitar Kita.
Kosongkan Gelas Pikiran Anda, Kunyah Dulu Sampai Halus .
Saring Ilmu Yang Anda Baca/Dapatkan,
Mau Berpikir. Rasakan,secara akal sehat,pikiran,batin dll (Ilmu Kuwi Kanthi Laku).
Masing2 Individu Memaknai Ilmu TIDAK SAMA.
Berdaulatlah Penuh Pada Diri Pribadimu! Selamat Membaca, Ambil maknanya.
Disini Tidak Melayani Perdebatan, Pertanyaan, Komentar  dan dan sejenisnya

Semua Demi Kebaikan "Kebecikan" untuk seluruh Makluk Ciptaan-NYA.
( BLOG  ini dibuka  dari  HP, kurang maksimal, saran  buka dari Laptop/Komputer/PC)
      BACA , PAHAMI, APLIKASIKAN UTAMA KE DIRI PRIBADI

        HARAPAN SAYA PRIBADI , SEMOGA BERMANFAAT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar